
Bayangkan calon mahasiswa mengunjungi kampus tanpa harus datang. Mereka membuka peramban, memutar pandangan 360 derajat, dan melihat gedung dari segala arah. Idenya terdengar sederhana, tetapi menuntut proses render yang cepat.
Tim peneliti dari FILKOM Universitas Brawijaya membangun prototipe objek skybox 3D berbasis WebGL. Skybox adalah latar berbentuk kubus yang membungkus sebuah pemandangan, sehingga pengguna merasa berada di dalam lokasi tersebut.
Panorama 360 derajat dipotong menjadi enam sisi kubus: posx, posy, posz, negx, negy, dan negz. Keenam sisi itu menjadi dinding ruang virtual. Ke dalamnya ditambahkan objek dasar seperti bola, kubus, torus, dan silinder sebagai elemen augmented reality, lengkap dengan pemetaan tekstur, efek cermin, gradasi warna, dan animasi gerakan.

WebGL dipilih karena berjalan langsung di peramban tanpa plugin tambahan. Tim memakai dua pendekatan sekaligus, yaitu shader dan non shader. Shader ditulis dengan GLSL untuk mengatur posisi verteks dan warna fragmen, sementara jalur non shader dipakai sebagai pembanding.

Pengujian dilakukan di lima titik lokasi kampus, masing-masing sepuluh kali percobaan. Rata rata waktu render yang tercatat adalah 0,12668 detik. Nilai itu menunjukkan bahwa adegan tiga dimensi berisi skybox dan beberapa objek tambahan masih nyaman dibuka dari peramban.

Bagi pengembang aplikasi wisata virtual, hasil ini menegaskan satu hal. Kunci kenyamanan bukan pada perangkat keras pengguna, melainkan pada seberapa rapi adegan disusun. Memotong panorama menjadi enam sisi dan mengendalikan shader dengan tepat sudah cukup untuk membuat pengalaman berjalan mulus.
Cholissodin et al. (2022). Pengembangan Fast Render Objek Grafis Menggunakan Shader dan Non-Shader Berbasis WebGL dari Primitive Object untuk Membuat Raw Metaverse Material Objek Skybox 3D di Filkom UB. Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer.