
Daftar fitur sering menjadi satu satunya perhatian saat merancang dasbor. Padahal keputusan tentang tampilan turut menentukan apakah dasbor dipakai setiap hari atau ditinggalkan setelah minggu pertama.
Rancangan dalam penelitian ini menetapkan sejumlah kebutuhan non fungsional untuk dasbor Learning Analytics yang menjadi masukan bagi model personalized learning. Isinya sederhana, dan dapat langsung dipakai sebagai daftar periksa.

Pilihan warna dan tipografi bukan soal selera. Dasbor learning analytics berisi banyak angka dan ringkasan aktivitas. Warna yang mencolok serta huruf yang berhias membuat pembacaan lebih lambat, dan mahasiswa cenderung berhenti membuka dasbor yang terasa melelahkan.
Syarat tentang tata letak yang rapi dan konsisten mudah dianggap remeh. Untuk dasbor, konsistensi adalah alat bantu navigasi. Kalau posisi ringkasan aktivitas selalu sama di setiap halaman, mahasiswa tidak perlu mencari ulang setiap kali membuka dasbor. Waktu yang dihemat terasa kecil, tetapi efeknya menumpuk pada pemakaian harian.
Dua butir pertama juga saling terkait. Sistem berbasis web dipilih supaya mahasiswa tidak perlu memasang aplikasi, dan justru karena itu tampilannya harus responsif. Tanpa tata letak yang menyesuaikan layar, pilihan platform tadi kehilangan sebagian manfaatnya.

Pakai daftar ini sebagai kriteria pemeriksaan sebelum rilis, bukan sekadar hiasan dokumen. Buka dasbor di layar ponsel, periksa apakah kerangkanya masih konsisten, lalu nilai apakah warnanya masih nyaman dibaca dalam waktu lama.
Wardhono, Kharisma, dan Jonemaro (2022). Pengembangan Desain Solusi Dasbor Learning Analytics sebagai Input pada Model Personalized Learning. Edunity: Kajian Ilmu Sosial dan Pendidikan.