MGMLaboratory
Back

Menu

01Home
02About Us
03Projects
04Publications
05Member
06Articles
07Contact

Let's Talk

Open in Mail app

Socials

Malang (ID) --:--Privacy PolicyTerms of Service

August 30, 20231 min read

KNN untuk Deteksi Risiko Diabetes pada KehamilanKNN untuk Deteksi Risiko Diabetes pada Kehamilan

Model sederhana dengan akurasi 78 persen dari data Puskesmas Lawang.

  • Jurnal
  • Publikasi

Written by

  • SRShirasaka RenIT & Infrastructure · Student Member

In this article

  1. 01Dari mana datanya berasal
  2. 02Empat skenario pengujian

Diabetes yang muncul atau sudah ada sebelum kehamilan membawa risiko besar. Ibu hamil dengan gangguan keseimbangan glukosa lebih rentan mengalami preeklampsia, kelahiran prematur, plasenta previa, sampai hipoglikemia pada bayi yang baru lahir. Karena itu, penapisan awal menjadi penting, terutama di fasilitas kesehatan yang sumber dayanya terbatas.

01/02

Dari mana datanya berasal

Tim peneliti memakai 248 catatan pemeriksaan ibu hamil di Puskesmas Lawang, Kabupaten Malang, dari Januari sampai Agustus 2021. Setiap catatan memuat 16 atribut, mulai dari usia ibu, usia kehamilan, riwayat kehamilan, indeks massa tubuh, sampai hasil skrining hepatitis, HIV, dan infeksi menular seksual.

  • Atribut yang dipakai mencakup GPA (gravida, para, abortus), riwayat penyakit, faktor risiko, dan riwayat persalinan sebelumnya.
  • Kelas yang diprediksi adalah status risiko tinggi atau tidak pada kehamilan tersebut.
Alat ukur glukosa darah untuk memantau kadar gula. Foto: Roy Zuo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
Fig. 01Alat ukur glukosa darah untuk memantau kadar gula. Foto: Roy Zuo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

02/02

Empat skenario pengujian

Metode yang dipilih adalah K-Nearest Neighbor (KNN). Algoritma ini menebak kelas sebuah data baru dengan melihat seberapa dekat data itu ke tetangga terdekatnya. Tim menguji empat nilai k dan membandingkan beberapa rasio pembagian data latih dengan data uji.

  • k=2 menghasilkan akurasi tertinggi 70,27 persen.
  • k=3 naik menjadi 75,68 persen.
  • k=4 memberi hasil terbaik, 78,38 persen.
  • k=5 sedikit menurun ke 77,03 persen.
Pemantauan kehamilan menangkap risiko lebih awal. Foto: Goleisureintl, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons.
Fig. 02Pemantauan kehamilan menangkap risiko lebih awal. Foto: Goleisureintl, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons.

Rasio 7:3 antara data latih dan data uji memberi hasil terbaik pada hampir semua skenario. Artinya, model lebih stabil ketika porsi data untuk belajar cukup besar, sementara sisanya tetap cukup untuk menguji.

Angka 78,38 persen jelas belum cukup untuk menggantikan penilaian bidan atau dokter. Namun hasil ini menunjukkan bahwa catatan pemeriksaan rutin di puskesmas sudah cukup kaya untuk memberi sinyal awal, asalkan atributnya diisi lengkap dan konsisten.

Sumber

  1. Aryo Pinandito, Satrio Agung Wicaksono, dan Satrio Hadi Wijoyo (2023). Implementasi Machine Learning Dalam Deteksi Risiko Tinggi Diabetes Melitus Pada Kehamilan. Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer.

    DOI10.25126/jtiik.20241047005 (opens in a new tab)

Next articleCatatan Puskesmas dan Masa Depan Skrining Kehamilan(Keep scrolling)(Read it next)(Loading)