MGMLaboratory
Back

Menu

01Home
02About Us
03Projects
04Publications
05Member
06Articles
07Contact

Let's Talk

Open in Mail app

Socials

Malang (ID) --:--Privacy PolicyTerms of Service

August 30, 20231 min read

Catatan Puskesmas dan Masa Depan Skrining KehamilanCatatan Puskesmas dan Masa Depan Skrining Kehamilan

Pelajaran praktis dari model KNN yang dibangun di atas 16 atribut pemeriksaan.

  • Jurnal
  • Publikasi

Written by

  • SRShirasaka RenIT & Infrastructure · Student Member

In this article

  1. 01Kekuatan ada pada datanya
  2. 02KNN sebagai pilihan yang ringan
  3. 03Yang belum selesai

Setiap ibu hamil yang datang memeriksakan diri meninggalkan jejak berupa catatan. Selama ini catatan itu hanya dibaca satu per satu oleh tenaga kesehatan. Penelitian tentang deteksi risiko diabetes melitus pada kehamilan menunjukkan bahwa tumpukan catatan tersebut bisa diolah lebih jauh menjadi peringatan dini.

01/03

Kekuatan ada pada datanya

Tim memakai 248 catatan pemeriksaan dari Puskesmas Lawang dan menyaring 16 atribut yang dianggap paling berpengaruh. Sebagian besar atribut itu sudah rutin dicatat, seperti usia ibu, usia kehamilan, indeks massa tubuh, dan hasil skrining penyakit menular.

  • Data yang dipakai bukan data baru. Semuanya berasal dari pemeriksaan yang memang sudah berjalan.
  • Kelengkapan pengisian menentukan hasil. Satu kolom yang kosong bisa mengubah posisi sebuah data di ruang atribut.
Alat ukur glukosa sederhana yang dipakai di layanan primer. Foto: Christidy, public domain, via Wikimedia Commons.
Fig. 01Alat ukur glukosa sederhana yang dipakai di layanan primer. Foto: Christidy, public domain, via Wikimedia Commons.

02/03

KNN sebagai pilihan yang ringan

K-Nearest Neighbor dipilih karena sederhana. Model ini tidak perlu proses pelatihan yang berat, cukup menyimpan data dan menghitung jarak ke tetangga terdekat saat ada data baru masuk. Untuk fasilitas kesehatan dengan perangkat terbatas, pendekatan seperti ini lebih realistis daripada model yang menuntut komputasi besar.

  • Akurasi terbaik yang dicapai adalah 78,38 persen pada k=4 dengan rasio data latih dan uji 7:3.
  • Nilai k yang terlalu kecil membuat model sensitif terhadap data pencilan, sedangkan k yang terlalu besar membuat batas antar kelas kabur.
Pemeriksaan gula darah di layanan kesehatan komunitas. Foto: Roy Zuo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
Fig. 02Pemeriksaan gula darah di layanan kesehatan komunitas. Foto: Roy Zuo, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

03/03

Yang belum selesai

Angka 78,38 persen berasal dari 248 data dan satu lokasi. Jumlah sebesar itu cukup untuk membuktikan konsep, tetapi belum cukup untuk dijadikan alat bantu keputusan resmi. Diperlukan data dari lebih banyak puskesmas, penanganan data kosong yang baku, dan pengujian ulang pada populasi yang berbeda.

Yang menarik, riset ini memperlihatkan bahwa nilai tambah terbesar bukan pada algoritmanya, melainkan pada disiplin pencatatan. Selama tenaga kesehatan mengisi data dengan rapi, model sederhana pun bisa memberi manfaat.

Sumber

  1. Aryo Pinandito, Satrio Agung Wicaksono, dan Satrio Hadi Wijoyo (2023). Implementasi Machine Learning Dalam Deteksi Risiko Tinggi Diabetes Melitus Pada Kehamilan. Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer.

    DOI10.25126/jtiik.20241047005 (opens in a new tab)

Next articleKit Build Versus Scratch Mapping: Which Pushes Students Further(Keep scrolling)(Read it next)(Loading)