MGMLaboratory
Back

Menu

01Home
02About Us
03Projects
04Publications
05Member
06Articles
07Contact

Let's Talk

Open in Mail app

Socials

Malang (ID) --:--Privacy PolicyTerms of Service

December 30, 20231 min read

Cara kerja framework DPE saat kurikulum berubah jadi gimCara kerja framework DPE saat kurikulum berubah jadi gim

Lima lapisan desain yang membantu pengembang menentukan kompetensi sebelum memilih teknologi.

  • Jurnal
  • Publikasi

Written by

  • SRShirasaka RenIT & Infrastructure · Student Member

In this article

  1. 01Lima lapisan yang harus diisi
  2. 02Kenapa urutannya penting

Membuat gim edukasi bukan sekadar menempel soal ke dalam sebuah permainan. Ada lapisan desain yang harus diputuskan lebih dulu: materi apa yang ingin diajarkan, cerita seperti apa yang membungkusnya, dan bagaimana pemain berinteraksi dengan keduanya.

Tim peneliti di balik gim Gravic memakai framework Design, Play, Experience atau DPE untuk menjawab pertanyaan itu secara berurutan. Kerangka ini merupakan pengembangan dari MDA, tetapi disusun khusus untuk kebutuhan gim serius dan edukatif.

Dua anak asyik bermain gim. Framework DPE menata pengalaman belajarnya. Foto: Shixart1985, CC BY 2.0.
Fig. 01Dua anak asyik bermain gim. Framework DPE menata pengalaman belajarnya. Foto: Shixart1985, CC BY 2.0.

01/02

Lima lapisan yang harus diisi

DPE membagi pekerjaan desain menjadi lima lapisan. Setiap lapisan diisi sebelum lapisan berikutnya dikerjakan, sehingga keputusan teknis tidak diambil lebih dulu sebelum tujuan belajarnya jelas.

  • Learning: materi dan soal diambil dari buku aktivitas grafik, dengan fokus menafsirkan dan menyusun grafik.
  • Storytelling: latar sehari-hari di restoran, rumah sakit, rumah, dan taman, dengan tokoh utama siswa kelas lima.
  • Gameplay: mekanisme kuis dengan pertanyaan bergambar yang dijawab memakai mouse.
  • Technology: Unity 2D dengan bahasa C# dan gaya pixel art yang dibangun lewat Tilemap.
Siswa mengerjakan tugas di laboratorium komputer. Materi gim disusun bertahap. Foto: Michael Surran, CC BY-SA 2.0.
Fig. 02Siswa mengerjakan tugas di laboratorium komputer. Materi gim disusun bertahap. Foto: Michael Surran, CC BY-SA 2.0.

02/02

Kenapa urutannya penting

Lapisan pengalaman pengguna menutup rangkaian itu. Menu utama menyediakan panduan cara bermain, sementara narasi pembuka menjelaskan kebingungan tokoh utama terhadap grafik. Dengan begitu pemain memahami alasan di balik setiap misi, bukan sekadar mengerjakan soal demi skor.

Pendekatan berlapis ini juga memudahkan evaluasi. Ketika hasil post-test naik dibanding pre-test, tim dapat menelusuri lapisan mana yang berperan, bukan menebak dari keseluruhan gim.

Bagi tim pengembang lain, urutan kerja ini layak dicoba. Tentukan kompetensi lebih dulu, bungkus dengan cerita yang dekat dengan keseharian pemain, baru pilih teknologi paling sederhana yang bisa mewujudkannya.

Sumber

  1. Silitonga, E., Jonemaro, E.M.A., Akbar, M.A. (2023). Pengembangan Gim Simulasi Kehidupan untuk Peningkatan Literasi Grafik Menggunakan Framework DPE. Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer.

    DOI10.25126/jtiik.2023107643 (opens in a new tab)

Next articleGim simulasi kehidupan untuk melatih literasi grafik(Keep scrolling)(Read it next)(Loading)