
QRIS sudah menjadi bagian sehari-hari di Indonesia. Standar pembayaran kode QR ini dipakai lebih dari 29,4 juta merchant terdaftar, dan lebih dari 99 persen di antaranya adalah usaha mikro, kecil, dan menengah. Namun tidak semua QRIS bekerja dengan cara yang sama.
Ada dua jenis yang dibandingkan dalam penelitian ini: QRIS statis dan QRIS dinamis. Keduanya memakai Merchant Presented Mode, yaitu mode ketika penjual menampilkan kode dan pembeli yang memindai. Perbedaan utamanya ada pada nominal yang tertanam di dalam kode tersebut.

Penelitian ini membandingkan keduanya dari sisi efisiensi. Ada dua parameter yang diamati: waktu yang dibutuhkan dan jumlah langkah yang harus dilakukan pembeli maupun penjual untuk menyelesaikan satu transaksi.

Hasilnya bergantung pada pola transaksi. Untuk transaksi tunggal dengan nominal yang berbeda-beda, QRIS dinamis terbukti mempercepat proses. Penjual tidak perlu lagi menyebutkan atau memverifikasi nominal secara manual sebelum pembeli memindai.
Pada situasi transaksi berulang dengan nominal yang sama, QRIS dinamis juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi koreografi proses bisnis. Alurnya menjadi lebih pendek dan lebih sedikit menuntut interaksi antara kedua pihak.
Penulis mencatat satu batasan penting. Penelitian ini mengabaikan penggunaan sumber daya sistem, sehingga hanya menilai sisi pengalaman pengguna dan jumlah langkah transaksi. Pemilihan jenis QRIS yang kurang tepat, menurut mereka, berisiko memperpanjang antrean dan menurunkan kepuasan berbelanja.
Pinandito, A., Brilliansyach, R.F. (2024). Efisiensi Penggunaan Qris Dengan Merchant Presented Mode Dalam Transaksi Pembayaran Non-Tunai. Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer.