MGMLaboratory
Back

Menu

01Home
02About Us
03Projects
04Publications
05Member
06Articles
07Contact

Let's Talk

Open in Mail app

Socials

Malang (ID) --:--Privacy PolicyTerms of Service

October 31, 20241 min read

Membaca Peran Shader dalam Augmented Reality di PerambanMembaca Peran Shader dalam Augmented Reality di Peramban

Satu laporan menunjukkan bahwa lapisan penggambaran yang jarang disentuh pengembang justru menentukan hasil akhir.

  • Jurnal
  • Publikasi

Written by

  • SRShirasaka RenIT & Infrastructure · Student Member

In this article

  1. 01Augmented reality yang tidak perlu dipasang
  2. 02Empat komponen yang bekerja bersama
  3. 03Pelajaran untuk pengembang

Membuat augmented reality di peramban berarti menumpuk dua pekerjaan berat sekaligus. Kamera harus terus membaca dunia nyata, sementara grafis harus menggambar objek virtual dengan mulus di atasnya. Penelitian dari tim Universitas Brawijaya membedah bagian yang paling sering diabaikan dalam tumpukan itu.

01/03

Augmented reality yang tidak perlu dipasang

Aplikasi yang harus diunduh lebih dulu selalu kehilangan sebagian calon pengguna. Versi berbasis web menghapus hambatan itu. Pengguna membuka tautan, mengizinkan akses kamera, dan pengalaman langsung berjalan. Cara ini cocok untuk katalog produk, materi belajar, sampai penunjuk arah di sebuah gedung.

Tahap geometry shader di dalam pipeline grafis. Photo: MaxDZ8, Public domain, via Wikimedia Commons.
Fig. 01Tahap geometry shader di dalam pipeline grafis. Photo: MaxDZ8, Public domain, via Wikimedia Commons.

02/03

Empat komponen yang bekerja bersama

  • WebGL, standar rendering grafik 3D di antarmuka web.
  • GLSL, bahasa skrip yang mengatur tampilan visual yang dihasilkan WebGL.
  • Three.js, perangkat JavaScript untuk grafik 3D interaktif.
  • AR.js, lapisan yang menyatukan objek virtual dengan gambar kamera.
Komponen penyusun WebGL. Diagram: Scriptor universalis, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
Fig. 02Komponen penyusun WebGL. Diagram: Scriptor universalis, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

03/03

Pelajaran untuk pengembang

Studi ini menemukan bahwa shader GLSL memberi kinerja lebih baik daripada jalur WebGL biasa ketika menampilkan objek virtual di augmented reality berbasis web. Artinya, menulis shader sendiri bukan sekadar latihan teknis. Keputusan itu berpengaruh pada hasil yang dirasakan pengguna.

Bagi tim yang membangun produk, urutan prioritasnya menjadi lebih jelas. Mulai dari fitur yang berjalan, lalu turun satu lapis ke penggambaran ketika perangkat pengguna mulai beragam dan tuntutan kelancaran naik.

Transformasi titik di jalur grafis WebGL. Diagram: Scriptor universalis, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
Fig. 03Transformasi titik di jalur grafis WebGL. Diagram: Scriptor universalis, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.

Untuk kelas dan proyek mahasiswa, kasus ini juga berguna sebagai contoh bahwa keputusan teknis yang terdengar mendalam tetap punya konsekuensi praktis yang bisa diukur.

Sumber

  1. Hamzaturrazak, M., et al. (2024). Analisis Kinerja Augmented Reality Hypertext Markup Language Dengan Pemanfaatan Web Graphics Library Dan OpenGL Shading Language Untuk Pengembangan 3D. Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer.

    DOI10.25126/jtiik.1078040 (opens in a new tab)

Next articleRebuilding a CAT Exam System for BKPSDM Kabupaten Malang(Keep scrolling)(Read it next)(Loading)